Akhirnya "Hidden Beach" atau Pantai Segara Anakan yang sangat tersembunyi lokasinya (Pulau Sempu) dan bermedan lumpur menanjak berhasil ditaklukkan oleh empat bocah yg masih bisa dibilang "super junior" karena empat bocah tersebut masih baru pertama kali memulai perjalanan yang menurut mereka paling jauh dari biasanya & dua bocah diantara empat bocah tersebut belum memiliki bekal ilmu navigasi darat & survival yang cukup.
Siapa sajakah empat bocah tersebut?
Okee, kita kenalan dulu yuk sebelum cerita..
- Pertama, Muhammad Alvian Alfaridzi/ AA/ Si Backpacker (leader) seorang pemimpin yang suka bertindak pasti dan yakin memilih keputusan, tapiii suka males mandi :D
- Kedua, Bayu Rizky Pratama/ Birma/ Si Totalitas, seorang cowo yang mengisi hidupnya dengan penuh totalitas tetapi sederhana.
- Ketiga, Arief Cahyadi/ Aca/ Si Kepleset, seorang cowo yang sering kepleset karena memiliki hobi *tiiit* sehingga kalori dan protein yang dimilikinya berkurang. Tetapi, cewek-cewek gampang kecantol sama cowok yang satu ini.
-Yang terakhir adalah Sigit Dimas Yuli Santoso/ Si Kram, seorang cowo yang sering mengalami kram pada anggota tubuhnya dan cepat lelah karena kurang lebih memiliki hobi yang sama dengan Aca, tapi Sigit penyedia logistik paling banyak lho.
Udah pada kenal semua kan sama empat bocah tersebut?
Langsung aja cerita deh...
Dimulai dari perencanaan. Kami berempat sudah merencanakan untuk mengisi liburan semester ini untuk melakukan observasi sekalian jalan-jalan ke Pulau Sempu yang terletak di daerah Malang Selatan. Kami memiliki rencana ke Pulau Sempu karena kami lihat di internet pulaunya sangat bersih, indah, menawan, & jarang sekali orang yang mengunjungi karena kawasan Pulau Sempu merupakan kawasan yang sangat dilindungi/ konservasi, dan merupakan cagar alam.
Setelah perencanaan selesai, dan kami telah menemukan tanggal yang pas untuk menuju ke Pulau Sempu, kami langsung mendaftarkan diri ke BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) di Kabupaten Jember untuk mendapatkan ijin ke Pulau Sempu berupa SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Alhamdulillah, setelah 1 jam kami menunggu, SIMAKSI pun kami terima.
Nahhh...waktu yang dinanti-nantikan pun tiba. Kalian tau apa? ya, tanggal 22 Desember 2013. Kami merencanakan berangkat ke Pulau Sempu pada tanggal tersebut.
Alhamdulillah, atas restu Allah dan orang tua kami masing-masing kami diijinkan berangkat ke Pulau Sempu tepat pada tanggal 22 Desember 2013.
Sebelum kami memulai perjalanan, terlebih dahulu kami menyiapkan logistik dan perlengkapan untuk ngecamp disana. Meminjam tenda dom ke sekolah, kemudian belanja logistik di pasar dan swalayan.
Perjalanan dimulai...titik kumpul kami di rumah Sigit kemudian kami mulai dari Terminal Situbondo pada pukul 19.30 WIB menunggu bis umum jurusan Probolinggo. Hingga pukul 20.45 WIB kami pun belum menemukan kendaraan umum jurusan Probolinggo. Kata orang-orang sekitar dikarenakan jembatan di Mlandingan putus sehingga lalin Probolinggo-Situbondo terhambat.
Lelah kami hampir dua jam menunggu tidak sabar. Kami memutuskan untuk menaiki bis jurusan Jember.
Naiklah kami ke bis "Jember Indah" ukuran mini ke Jember selama 2 jam perjalanan hingga tiba di Terminal Arjasa, Kab. Jember. Dari terminal Arjasa kami estafet ke Terminal Tawang Alun menaiki angkot kira-kira 10 menitan lah kesana.
Setiba di Terminal Tawang Alun kami sejenak ngisi BBM (Bahan Bakar untuk Manusia) saya dan arief membeli nasi campur, sedangkan bayu dan sigit membeli mie rebus. Usai isi BBM kita pada buang air kecil karena hawanya sangat dingin + ujan terus selama perjalanan.

Setelah buang air kecil kami meneruskan menunggu bis di tempat berhenti bis. Hampir setengah jam kami menunggu bis, tak ada satupun bis jurusan Malang yang datang. Arief dan sigit kemudian bertanya pada petugas terminal "Pak, bis jurusan langsung Malang Arjosari jam berapa?" petugas menjawab "Ada dek, sebentar lagi bis P.O Harapan Kita sekitar jam 1-an". Kami berempat terus menunggu sampai pukul 1 malam. Karna saya tidak sabar, saya tanya lagi ke petugas terminal "Permisi pak, bis jurusan Malang langsung ini jam berapa? Katanya jam 1 ada? *dengan wajah sedikit kecewa*" petugas menjawab "Mohon maaf dek, jadwal berubah. Bis jurusan Malang terakhir tadi, baru ada lagi besok pagi jam 4". hm.. saya dan teman-teman langsung kecewa, petugasnya PHP-in kami :(
Daripada nunggu lama, saya mengajak teman-teman saya menaiki bis jurusan Bayuangga Probolinggo. Perjalanan Tawang Alun-Bayuangga Probolinggo ditempuh selama 3 jam. Lama lah, kalo dibandingin seperti biasanya, dikarenakan ada kecelakaan bis "Jawa Indah" menabrak pohon asem di Jalan Raya Klakah sehingga macet sangat panjang.
Kami tiba di Terminal Bayuangga Probolinggo tepat pada pukul 4.00 WIB. Turun dari bis "Anggun Krida" kami langsung estafet ke bis "AKAS Green" jurusan Malang. Karena bisnya lumayan enak lah, walau ga ada ACnya tapi sirkulasi udaranya enak dan penumpang tidak ada yang sampai berdiri, jadi kami berempat tidur sampai terminal Arjosari, Malang.
Perjalanan Probolinggo-Malang lancar, tidak padat merayap seperti saat di Klakah tadi malam. Durasi waktu dari Probolinggo-Malang hanya 2 jam saja.
Sesampainya di Terminal Arjosari kami tidak lama-lama, langsung menemukan angkot jurusan Gadang berkode AG. Senangnya kami berempat bisa menghirup udara segar pagi Kota Malang dan disambut dengan baik disana sambil berangan-angan layaknya di film 5cm walau tujuan kita bukan ke Puncak Mahameru.
Dari Terminal Gadang kami langsung oper ke bis jurusan Dampit, tetapi kami berhenti di Pasar Turen karena di Pasar Turen kami bisa transit ke angkot jurusan Sendang Biru. Sendang Biru merupakan tempat dimana kami bisa menyebrangi Selat Sempu menuju Pulau Sempu.
Nah, di Pasar Turen kami mendapat kenalan baru. Seorang sopir angkot yang ulet bekerja dan baik hati. Dia adalah Mas Koko. Mas Koko memberi tumpangan kami berempat di angkotnya menuju sendang biru.
Ini dia perjalanan yang lumayan lama, yaitu 3 jam. Yaa, kami penempuh perjalanan dari Pasar Turen ke Sendang Biru selama 3 jam. Karena jarak dari Pasar Turen ke Sendang Biru adalah 53km dengan jalan berlika-liku tajam dan menanjak-menurun. Selama di angkot kami banyak mendapat info soal Pulau Sempu dari Mas Koko, mulai cuaca, flora, fauna, dan medan mendaki Pulau Sempu.
Tiga jam berlalu, sampailah kami berempat di Sendang Biru. Disini saya terlebih dahulu menyerahkan SIMAKSI atas permohonan yang telah saya ajukan ke BKSDA Jember untuk melakukan observasi dan wisata. Sedangkan Arief, Bayu, dan Sigit membeli persediaan air minum yang banyak di warung sekitar karena di Pulau Sempu kita bakalan susah menemukan air tawar yang bersih.

Jeng..jeng... Penyebrangan menuju Pulau Sempu pun dimulai. Dengan membayar uang sebesar 100rb rupiah ke petugas kami mendapat fasilitas 1 perahu mesin untuk transportasi kami menyebrangi Selat Sempu. Kami menyebrangi Selat Sempu tersebut selama kurang lebih 10 menitan lah karena deket banget, pulaunya dari penyebrangan udah kelihatan.

Sesampainya di Pulau Sempu perjuangan kami berempat masih belum berakhir, kawan.. :') karena tujuan utama kami masih terletak di balik bukit licin berlumpur dan menanjak. Jadi, kami masih harus mendaki medan hutan belantara Pulau Sempu sejauh 4km selama 3 jam menuju Pantai Segara Anakan tujuan utama kita untuk tempat ngecamp.
Sebelum memasuki hutan belantara Pulau Sempu kami hendak berdo'a lagi terlebih dahulu agar dijauhkan dari marabahaya dan hewan-hewan buas di sekitar hutan Pulau Sempu. Kami pun memasuki hutan berlumpur dan mulai mendaki jalan setapak yang bercabang sangat banyak. Saya menyarankan agar teman-teman saya tidak ada yang sampai memaksakan diri saat lelah. Dipimpin saya dibarisan paling depan kemudian bayu dibarisan kedua. Saya menanyakan pada teman-teman "Udah pada capek gak ni? kalo capek bilang". Mereka masih pada semangat untuk mendaki. Tak lama, kemudian saya mendengar ada seorang kepeleset. Ternyata yang kepeleset adalah arief. Untung saja tidak apa-apa hanya saja pakaian dan tasnya dipenuhi lumpur dan kami memutuskan istirahat sejenak sambil minum.
Meneruskan perjalanan selama 1,5 jam kami pun menemukan sebuah goa. Gatau apa nama goanya. Langsung saja kami berempat berteduh di goa itu sambil makan camilan dan minum kira-kira 10 menitan. Bertemu dengan rombongan lain yang sudah kembali dari Pantai Segara Anakan saya bertanya "Mas, Segara Anakan uda deket apa belum?" mereka menjawab "wah, udah deket banget bang. Kira2 15 menitan darisini". Mendengar ujaran itu saya langsung semangat mengajak teman-teman saya "maju nak-kanak, Segara Anakan la semmak ya". "Oke oke oke..maju jhelen eee jhek ngakan malolo" Ujar Si Bayu kepada Arief dan Sigit. Kami semua sangat semangat, saking semangatnya Si Arief bolak-balik kepleset..haha xD kalo diitung-itung paling udah 10 kali kepeleset :D
Tujuan utama kita mulai dekat..tanda-tanda keindanhan Pantai Segara Anakan pun mulai terlihat. Tetapi rintangan tambah susah, karena kami berjalan di jalan yang lebarnya hanya setengah meter. Sebelah kiri tebing dan sebelah kanan adalah jurang. Jadi kami perlu ekstra hati-hati melewati rintangan ini :)
Setelah turun dari tebing curam Alhamdulillahirobbil'aalamiin...Allah mengabulkan do'a kami. Kami bisa melihat kecantikan dan menghirup udara segar Pantai Segara Anakan di Pulau Sempu. Sungguh merupakan kebanggaan bagi kami berempat bisa singgah di Alam ciptaan-Nya :)
Seusai itu, kami langsung membangun tenda di Pantai Segara Anakan dan memasak makanan untuk makan siang yang dijamak dengan sarapan..haha :D

Makan selesai... kami berempat mandi dipantai. Tak lama kemudian Si Sigit berteriak bahwa kakinya kram. Saya, Bayu dan Arief bukannya malah menolong Sigit melainkan menertawakannya :D karna gak percaya masa Sigit cuman duduk bisa Kram. Eh, ternyata Sigit kram beneran, teriaknya ga selesai-selesai. Saya langsung menolong Sigit sampai kramnya sembuh.
Saya merasa capek, karena sebelum berangkat ke Pulau Sempu saya baru pulang dari kegiatan Raimuna Daerah di Ampelgading, Malang. Tapi saya sangat bahagia melihat ketiga teman saya senang.
Saya dan Bayu pun tidur. Sedangkan Arief dan Sigit asik bermain air di Pantai. Saya dan Bayu terbangun melihat sang surya mulai menenggelamkan tubuhnya, kami bergegas untuk mencari kayu bakar untuk kehangatan. Karena kami hanya mendapatkan kayu kering yang sangat sedikit untuk dibakar, maka kami membuat api unggun menggunakan 1 pack parafin xD
Malam mulai datang, kami mulai mempersiapkan makan malam kami dengan mie rebus menggunakan air laut dan membuat kopi panas menggunakan air laut *enak lho* :D
Kami semua kenyang.. kemudian tidurrr. Padahal masih jam 8 sudah mau tidur sambil menatapi indahnya terang bulan langit malam dan bintang malam Segara Anakan, Pulau Sempu. Tak lama kemudian, Sigit membangunkan saya "Yan, yan, jheghe yan!". "Apa git?" kata saya. "Sateya kol berempa lah?". Saya melihat jam kemudian menjawab "Ghik kol sangak git". Saya tidur lagi kemudian Sigit membangunkan saya lagi. "Yan, yan, jheghe yan!". "Apa git?" kata saya. "Sateya kol berempa lah?". Saya melihat jam kemudian menjawab "Ghik kol settong, git". Saya tidur lagi kemudian Sigit membangunkan saya lagi."Yan, yan, jheghe yan!". "Apa git?" kata saya. "Sateya kol berempa lah?". Saya melihat jam kemudian menjawab "Ghik kol tellok, git". "Arapa?" kata saya. "Njek tak papa. Cellep". Rupanya Sigit gak betah tidur ditenda. Keburu pulang xD. Maklum lah kawan saya yang satu ini anak rumahan. Rumahnya aja dibelakang sekolah, ke sekolahnya naik sepeda motor :D

Pagi pun tiba.. Matahari mulai menampakkan wujudnya dari ufuk timur dan kami mulai bersih diri kemudian menyiapkan makanan untuk sarapan. Sarapan pagi ini sangat mewah bagi orang-orang seperti kami. Karena pagi ini kami memasak semua sisa logistik kami, nasi, sarden, abon, mie, telur.
Seusai makan tepat pada pukul 7 pagi kami packing untuk kembali ke Situbondo tercinta. Tetapi sebelum pulang kami narsis-narsis dulu disini dan melanjutkan observasi kami :)
Selesai semuanya.. kami lantas kembali ke penyebrangan selama 3 jam dan selama perjalanan Arief pun berulang kali terpleset :D. Sampai di penyebrangan Sendang Biru kami lapor lagi bahwa kami sudah kembali dengan selamat kepada petugas BKSDA Pulau Sempu. Sejenak beristirahat dan membeli bakwan kami berempat langsung menyewa angkutan langsung jurusan Terminal Arjosari bersama rombongan dari ITB, Bandung yang juga melakukan observasi disana. Saat dari Sendang Biru-Arjosari kami semua tidur karena teparrr. Kami tiba di Terminal Arjosari pukul 5 sore karena jalanan sangat padat merayap sehingga perjalanan dari Sendang Biru-Arjosari selama 8 jam-an.
Sesampainya di Terminal Arjosari tak lama kemudian kami menemukan bis "Ladju" trayek Malang-Banguwangi. Sigit dan Arief duduk di samping pak supir bis sampai Probolinggo karena bisnya full. Untung saja saya dan Bayu masi kebagian tempat duduk penumpang :)
Lima jam berlalu dari Terminal Arjosari, Alhamdulillah saya tiba di terminal Besuki pada jam 11 malam. Sedangkan tiga rekan saya tiba di Terminal Situbondo pada jam 1 malam karena macet jembatan putus di Mlandingan.
*Sekian Cerita dari Saya. Semoga Bermanfaat untuk Mengisi Liburan Teman-teman Semua yang Membaca* :)

Siapa sajakah empat bocah tersebut?
Okee, kita kenalan dulu yuk sebelum cerita..
- Pertama, Muhammad Alvian Alfaridzi/ AA/ Si Backpacker (leader) seorang pemimpin yang suka bertindak pasti dan yakin memilih keputusan, tapiii suka males mandi :D
- Kedua, Bayu Rizky Pratama/ Birma/ Si Totalitas, seorang cowo yang mengisi hidupnya dengan penuh totalitas tetapi sederhana.
- Ketiga, Arief Cahyadi/ Aca/ Si Kepleset, seorang cowo yang sering kepleset karena memiliki hobi *tiiit* sehingga kalori dan protein yang dimilikinya berkurang. Tetapi, cewek-cewek gampang kecantol sama cowok yang satu ini.
-Yang terakhir adalah Sigit Dimas Yuli Santoso/ Si Kram, seorang cowo yang sering mengalami kram pada anggota tubuhnya dan cepat lelah karena kurang lebih memiliki hobi yang sama dengan Aca, tapi Sigit penyedia logistik paling banyak lho.
Udah pada kenal semua kan sama empat bocah tersebut?
Langsung aja cerita deh...
Dimulai dari perencanaan. Kami berempat sudah merencanakan untuk mengisi liburan semester ini untuk melakukan observasi sekalian jalan-jalan ke Pulau Sempu yang terletak di daerah Malang Selatan. Kami memiliki rencana ke Pulau Sempu karena kami lihat di internet pulaunya sangat bersih, indah, menawan, & jarang sekali orang yang mengunjungi karena kawasan Pulau Sempu merupakan kawasan yang sangat dilindungi/ konservasi, dan merupakan cagar alam.
Setelah perencanaan selesai, dan kami telah menemukan tanggal yang pas untuk menuju ke Pulau Sempu, kami langsung mendaftarkan diri ke BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam) di Kabupaten Jember untuk mendapatkan ijin ke Pulau Sempu berupa SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Alhamdulillah, setelah 1 jam kami menunggu, SIMAKSI pun kami terima.
Nahhh...waktu yang dinanti-nantikan pun tiba. Kalian tau apa? ya, tanggal 22 Desember 2013. Kami merencanakan berangkat ke Pulau Sempu pada tanggal tersebut.
Alhamdulillah, atas restu Allah dan orang tua kami masing-masing kami diijinkan berangkat ke Pulau Sempu tepat pada tanggal 22 Desember 2013.
Sebelum kami memulai perjalanan, terlebih dahulu kami menyiapkan logistik dan perlengkapan untuk ngecamp disana. Meminjam tenda dom ke sekolah, kemudian belanja logistik di pasar dan swalayan.
Perjalanan dimulai...titik kumpul kami di rumah Sigit kemudian kami mulai dari Terminal Situbondo pada pukul 19.30 WIB menunggu bis umum jurusan Probolinggo. Hingga pukul 20.45 WIB kami pun belum menemukan kendaraan umum jurusan Probolinggo. Kata orang-orang sekitar dikarenakan jembatan di Mlandingan putus sehingga lalin Probolinggo-Situbondo terhambat.
Lelah kami hampir dua jam menunggu tidak sabar. Kami memutuskan untuk menaiki bis jurusan Jember.
Naiklah kami ke bis "Jember Indah" ukuran mini ke Jember selama 2 jam perjalanan hingga tiba di Terminal Arjasa, Kab. Jember. Dari terminal Arjasa kami estafet ke Terminal Tawang Alun menaiki angkot kira-kira 10 menitan lah kesana.
Setiba di Terminal Tawang Alun kami sejenak ngisi BBM (Bahan Bakar untuk Manusia) saya dan arief membeli nasi campur, sedangkan bayu dan sigit membeli mie rebus. Usai isi BBM kita pada buang air kecil karena hawanya sangat dingin + ujan terus selama perjalanan.

Setelah buang air kecil kami meneruskan menunggu bis di tempat berhenti bis. Hampir setengah jam kami menunggu bis, tak ada satupun bis jurusan Malang yang datang. Arief dan sigit kemudian bertanya pada petugas terminal "Pak, bis jurusan langsung Malang Arjosari jam berapa?" petugas menjawab "Ada dek, sebentar lagi bis P.O Harapan Kita sekitar jam 1-an". Kami berempat terus menunggu sampai pukul 1 malam. Karna saya tidak sabar, saya tanya lagi ke petugas terminal "Permisi pak, bis jurusan Malang langsung ini jam berapa? Katanya jam 1 ada? *dengan wajah sedikit kecewa*" petugas menjawab "Mohon maaf dek, jadwal berubah. Bis jurusan Malang terakhir tadi, baru ada lagi besok pagi jam 4". hm.. saya dan teman-teman langsung kecewa, petugasnya PHP-in kami :(
Daripada nunggu lama, saya mengajak teman-teman saya menaiki bis jurusan Bayuangga Probolinggo. Perjalanan Tawang Alun-Bayuangga Probolinggo ditempuh selama 3 jam. Lama lah, kalo dibandingin seperti biasanya, dikarenakan ada kecelakaan bis "Jawa Indah" menabrak pohon asem di Jalan Raya Klakah sehingga macet sangat panjang.
Kami tiba di Terminal Bayuangga Probolinggo tepat pada pukul 4.00 WIB. Turun dari bis "Anggun Krida" kami langsung estafet ke bis "AKAS Green" jurusan Malang. Karena bisnya lumayan enak lah, walau ga ada ACnya tapi sirkulasi udaranya enak dan penumpang tidak ada yang sampai berdiri, jadi kami berempat tidur sampai terminal Arjosari, Malang.
Perjalanan Probolinggo-Malang lancar, tidak padat merayap seperti saat di Klakah tadi malam. Durasi waktu dari Probolinggo-Malang hanya 2 jam saja.
Sesampainya di Terminal Arjosari kami tidak lama-lama, langsung menemukan angkot jurusan Gadang berkode AG. Senangnya kami berempat bisa menghirup udara segar pagi Kota Malang dan disambut dengan baik disana sambil berangan-angan layaknya di film 5cm walau tujuan kita bukan ke Puncak Mahameru.
Dari Terminal Gadang kami langsung oper ke bis jurusan Dampit, tetapi kami berhenti di Pasar Turen karena di Pasar Turen kami bisa transit ke angkot jurusan Sendang Biru. Sendang Biru merupakan tempat dimana kami bisa menyebrangi Selat Sempu menuju Pulau Sempu.
Nah, di Pasar Turen kami mendapat kenalan baru. Seorang sopir angkot yang ulet bekerja dan baik hati. Dia adalah Mas Koko. Mas Koko memberi tumpangan kami berempat di angkotnya menuju sendang biru.
Ini dia perjalanan yang lumayan lama, yaitu 3 jam. Yaa, kami penempuh perjalanan dari Pasar Turen ke Sendang Biru selama 3 jam. Karena jarak dari Pasar Turen ke Sendang Biru adalah 53km dengan jalan berlika-liku tajam dan menanjak-menurun. Selama di angkot kami banyak mendapat info soal Pulau Sempu dari Mas Koko, mulai cuaca, flora, fauna, dan medan mendaki Pulau Sempu.
Tiga jam berlalu, sampailah kami berempat di Sendang Biru. Disini saya terlebih dahulu menyerahkan SIMAKSI atas permohonan yang telah saya ajukan ke BKSDA Jember untuk melakukan observasi dan wisata. Sedangkan Arief, Bayu, dan Sigit membeli persediaan air minum yang banyak di warung sekitar karena di Pulau Sempu kita bakalan susah menemukan air tawar yang bersih.

Jeng..jeng... Penyebrangan menuju Pulau Sempu pun dimulai. Dengan membayar uang sebesar 100rb rupiah ke petugas kami mendapat fasilitas 1 perahu mesin untuk transportasi kami menyebrangi Selat Sempu. Kami menyebrangi Selat Sempu tersebut selama kurang lebih 10 menitan lah karena deket banget, pulaunya dari penyebrangan udah kelihatan.

Sesampainya di Pulau Sempu perjuangan kami berempat masih belum berakhir, kawan.. :') karena tujuan utama kami masih terletak di balik bukit licin berlumpur dan menanjak. Jadi, kami masih harus mendaki medan hutan belantara Pulau Sempu sejauh 4km selama 3 jam menuju Pantai Segara Anakan tujuan utama kita untuk tempat ngecamp.
Sebelum memasuki hutan belantara Pulau Sempu kami hendak berdo'a lagi terlebih dahulu agar dijauhkan dari marabahaya dan hewan-hewan buas di sekitar hutan Pulau Sempu. Kami pun memasuki hutan berlumpur dan mulai mendaki jalan setapak yang bercabang sangat banyak. Saya menyarankan agar teman-teman saya tidak ada yang sampai memaksakan diri saat lelah. Dipimpin saya dibarisan paling depan kemudian bayu dibarisan kedua. Saya menanyakan pada teman-teman "Udah pada capek gak ni? kalo capek bilang". Mereka masih pada semangat untuk mendaki. Tak lama, kemudian saya mendengar ada seorang kepeleset. Ternyata yang kepeleset adalah arief. Untung saja tidak apa-apa hanya saja pakaian dan tasnya dipenuhi lumpur dan kami memutuskan istirahat sejenak sambil minum.
Meneruskan perjalanan selama 1,5 jam kami pun menemukan sebuah goa. Gatau apa nama goanya. Langsung saja kami berempat berteduh di goa itu sambil makan camilan dan minum kira-kira 10 menitan. Bertemu dengan rombongan lain yang sudah kembali dari Pantai Segara Anakan saya bertanya "Mas, Segara Anakan uda deket apa belum?" mereka menjawab "wah, udah deket banget bang. Kira2 15 menitan darisini". Mendengar ujaran itu saya langsung semangat mengajak teman-teman saya "maju nak-kanak, Segara Anakan la semmak ya". "Oke oke oke..maju jhelen eee jhek ngakan malolo" Ujar Si Bayu kepada Arief dan Sigit. Kami semua sangat semangat, saking semangatnya Si Arief bolak-balik kepleset..haha xD kalo diitung-itung paling udah 10 kali kepeleset :D
Tujuan utama kita mulai dekat..tanda-tanda keindanhan Pantai Segara Anakan pun mulai terlihat. Tetapi rintangan tambah susah, karena kami berjalan di jalan yang lebarnya hanya setengah meter. Sebelah kiri tebing dan sebelah kanan adalah jurang. Jadi kami perlu ekstra hati-hati melewati rintangan ini :)
Setelah turun dari tebing curam Alhamdulillahirobbil'aalamiin...Allah mengabulkan do'a kami. Kami bisa melihat kecantikan dan menghirup udara segar Pantai Segara Anakan di Pulau Sempu. Sungguh merupakan kebanggaan bagi kami berempat bisa singgah di Alam ciptaan-Nya :)
Seusai itu, kami langsung membangun tenda di Pantai Segara Anakan dan memasak makanan untuk makan siang yang dijamak dengan sarapan..haha :D

Makan selesai... kami berempat mandi dipantai. Tak lama kemudian Si Sigit berteriak bahwa kakinya kram. Saya, Bayu dan Arief bukannya malah menolong Sigit melainkan menertawakannya :D karna gak percaya masa Sigit cuman duduk bisa Kram. Eh, ternyata Sigit kram beneran, teriaknya ga selesai-selesai. Saya langsung menolong Sigit sampai kramnya sembuh.
Saya merasa capek, karena sebelum berangkat ke Pulau Sempu saya baru pulang dari kegiatan Raimuna Daerah di Ampelgading, Malang. Tapi saya sangat bahagia melihat ketiga teman saya senang.
Saya dan Bayu pun tidur. Sedangkan Arief dan Sigit asik bermain air di Pantai. Saya dan Bayu terbangun melihat sang surya mulai menenggelamkan tubuhnya, kami bergegas untuk mencari kayu bakar untuk kehangatan. Karena kami hanya mendapatkan kayu kering yang sangat sedikit untuk dibakar, maka kami membuat api unggun menggunakan 1 pack parafin xD
Malam mulai datang, kami mulai mempersiapkan makan malam kami dengan mie rebus menggunakan air laut dan membuat kopi panas menggunakan air laut *enak lho* :D
Kami semua kenyang.. kemudian tidurrr. Padahal masih jam 8 sudah mau tidur sambil menatapi indahnya terang bulan langit malam dan bintang malam Segara Anakan, Pulau Sempu. Tak lama kemudian, Sigit membangunkan saya "Yan, yan, jheghe yan!". "Apa git?" kata saya. "Sateya kol berempa lah?". Saya melihat jam kemudian menjawab "Ghik kol sangak git". Saya tidur lagi kemudian Sigit membangunkan saya lagi. "Yan, yan, jheghe yan!". "Apa git?" kata saya. "Sateya kol berempa lah?". Saya melihat jam kemudian menjawab "Ghik kol settong, git". Saya tidur lagi kemudian Sigit membangunkan saya lagi."Yan, yan, jheghe yan!". "Apa git?" kata saya. "Sateya kol berempa lah?". Saya melihat jam kemudian menjawab "Ghik kol tellok, git". "Arapa?" kata saya. "Njek tak papa. Cellep". Rupanya Sigit gak betah tidur ditenda. Keburu pulang xD. Maklum lah kawan saya yang satu ini anak rumahan. Rumahnya aja dibelakang sekolah, ke sekolahnya naik sepeda motor :D

Pagi pun tiba.. Matahari mulai menampakkan wujudnya dari ufuk timur dan kami mulai bersih diri kemudian menyiapkan makanan untuk sarapan. Sarapan pagi ini sangat mewah bagi orang-orang seperti kami. Karena pagi ini kami memasak semua sisa logistik kami, nasi, sarden, abon, mie, telur.
Seusai makan tepat pada pukul 7 pagi kami packing untuk kembali ke Situbondo tercinta. Tetapi sebelum pulang kami narsis-narsis dulu disini dan melanjutkan observasi kami :)
Selesai semuanya.. kami lantas kembali ke penyebrangan selama 3 jam dan selama perjalanan Arief pun berulang kali terpleset :D. Sampai di penyebrangan Sendang Biru kami lapor lagi bahwa kami sudah kembali dengan selamat kepada petugas BKSDA Pulau Sempu. Sejenak beristirahat dan membeli bakwan kami berempat langsung menyewa angkutan langsung jurusan Terminal Arjosari bersama rombongan dari ITB, Bandung yang juga melakukan observasi disana. Saat dari Sendang Biru-Arjosari kami semua tidur karena teparrr. Kami tiba di Terminal Arjosari pukul 5 sore karena jalanan sangat padat merayap sehingga perjalanan dari Sendang Biru-Arjosari selama 8 jam-an.
Sesampainya di Terminal Arjosari tak lama kemudian kami menemukan bis "Ladju" trayek Malang-Banguwangi. Sigit dan Arief duduk di samping pak supir bis sampai Probolinggo karena bisnya full. Untung saja saya dan Bayu masi kebagian tempat duduk penumpang :)
Lima jam berlalu dari Terminal Arjosari, Alhamdulillah saya tiba di terminal Besuki pada jam 11 malam. Sedangkan tiga rekan saya tiba di Terminal Situbondo pada jam 1 malam karena macet jembatan putus di Mlandingan.
*Sekian Cerita dari Saya. Semoga Bermanfaat untuk Mengisi Liburan Teman-teman Semua yang Membaca* :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar